“Mah, kenapa sayang? Bokep Colmek Tapi itulah sebuah kenyataan pahit yang harus kutelan. Untung kenang-kenangan kalau Ningsih di Bandung katanya. Aku seakan tidak rela melepas kekasihku untuk dikawinkan dengan lelaki lain. ” Dia mencubit pahaku sambil tersenyum manja, dan tangannya kutahan untuk tetap memegang pahaku, dia mendelik manja tapi juga setuju. “Pah… kamu nakal deh”, sambil mencubit sekali lagi pahaku. Minggu siang sekitar jam 12.00 Togar datang sesuai janji untuk mengantarkan Ningsih pulang, sambil mendropku di stasiun kereta api. yuuu…, oooghh… sayaang.” Kami sama-sama mengejang, mengerang, merengkuh apa pun yang bisa direngkuh, sebuah klimaks dua manusia yang saling mencintai dan baru dipertemukan, meskipun sudah agak telat karena aku sudah berkeluarga. Keringat kami membanjiri sprei hotel seperti habis mandi. Tiba-tiba timbul pikiranku untuk menggodanya, sekaligus menumpahkan kekesalan dan kecemburuanku.




















