“Balik lagi, dong.”
Pantatku dipijat, lalu pahaku. Bokep Thailand Yang bargaun hitam lebih seksi, body-nya menggitar, face-nya biasa-biasa aja. Sopan banget. “Telungkup dong Mas.”
Aku membalik tubuhku. “Maunya service yang memuaskan.”
“Yang memuaskan yang gimana?”
“Body massage, karaoke, dan main,” serangku, meniru servis Si Besar tadi. Memang inilah maksudku dengan meminta pijat di punggung. “Eh…bentar dong Mas,” elaknya ramah. Lalu menyambar handuk dan ke kamar mandi. “Kamu dari mana Yen?”
“Cirebon, Mas.”
Selesai di pinggang dan punggungku, Yeni lalu melepas celdamku sambil bilang maaf. “Gak ah, takut. Aku melepas tubuhnya. Aku masih menebar pandangan lagi jangan-jangan ada yang lebih bagus terlewat dari penelitianku.“Sama saya aja Mas, nanti ‘dibody’ sebelum main, mau karaoke juga boleh,” kata pengawalku tiba-tiba. Dengan gaun model “kemben” (menutup separoh dada horisontal), buah dadanya seakan “tumpah”. “Loe tahu kan selera gue?




















